Jumat, 14 Oktober 2016

SEJARAH; DIUSIK DIKIT PASTI BERISIK


Baru-baru ini teman seprofesi bertanya "mengapa sejarah selalu di usik dan jadi perdebatan?".
Setengah bercanda ku jawab "wajar saja karena jangankan kita, yang menjadi pelaku atau mereka terlibat langsung dalam sejarah saja pasti mengemukakan pendapat yang berbeda".

Hal itu sangatlah lumrah karena sejarah ibarat mata uang yang memiliki 2 sisi bertolak belakang dan masing-masing sisi melahirkan opini yang tidak dapat dipisahkan.

Perdebatan sejarah apapun itu baik organisasi, lembaga atau mungkin negara sekalipun pasti tidak akan habis-habisnya. Sakin sensitifnya semakin diusik akan makin berisik.

Memang, selain mengetahui asal usul, dengan mempelajari sejarah kita akan mengetahui dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi orang terdahulu yang belum terealisasikan.

Dengan mempelajari sejarah (terdapat distorsi atau tidak), kita akan mengetahui peradaban kehidupan masa lalu, sehingga jika ada keburukan/kekurangan dikala itu dapat dibenahi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing karena tiap pelaku sejarah tidak ada yang bisa luput dari khilaf dan salah.

Tujuan menggali sejarah sangatlah mulia, minimal dapat menjadi rambu dalam melangkah demi kemajuan bersama. Tapi jika yang terjadi bakalan sebaliknya, mari kita jadikan saja sejarah sebagai guru terbaik, titik tak berkoma.

KANJENG, AKAL DAN HATI


Karismatik dan alibi peretas videotron sepertinya tidak mampu menggeser rate topik nasional kasus yang menerpa Kanjeng Dimas Taat Pribadi (Desa Wakal Kec. Gading Kab. Probolinggo).

Kasus penipuan dengan maksud menggandakan uang berkedok padepokan, jelas menggetarkan tanah persilatan. Mulai dari banyaknya pengikut (ribuan) yang mempercayai kalau sang Kanjeng mampu mencetak uang layaknya sebuah bank sampai link-link terbangun kepada tokoh dan elit nasional.

Sebelumnya, padepokan Brajamusti juga menghiasi layar tv dengan topologi korban yang hampir sama, rakyat biasa, artis, elit politik dan publik figur yang secara tak langsung menyibak tabir tipikal rakyat dari jelata sampai Petahana yang masih menganggap kekuatan uang (the power of money) adalah satu-satunya solusi menggapai keinginan.

Wajar saja banyak pejabat dan para intelektual terjerembab dalam kasus penyalahgunaan uang demi kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya (korupsi).

Tentu kita tidak bisa mengambil satu angle saja dalam menilai kejadian yang terus berulang ini, perlu juga ada kajian dari sudut pandang pragmatis realitas sosial, budaya, politik dan ekonomi bangsa.

Fenomena Kanjeng Dimas dan Brajamusti bisa menjadi gambaran konkrit sosial masyarakat yang masih memegang teguh budaya instan. Budaya ingin cepat kaya tanpa susah payah, pengen cepat terkenal tanpa prestasi, ingin cepat naik jabatan tanpa kerja keras dan lain sebagainya.

Lalu mengapa sampai ada golongan intelektual dan para cendikia bertengger dalam barisan “korban”.
Azyumardi Azra, Guru Besar Fak. Adab dan Humaniora UIN Jakarta menuturkan fenomena tersebut terjadi karena adanya disorientasi dan dislokasi sehingga mengakibatkan krisis kepribadian, obsesi politik, kekuasaan dan jabatan serta kerakusan harta dan uang selain kesulitan finansial karena terlilit hutang dan sebagainya (Kompas, 06/10/2016).

Sesuai dengan kodratnya, manusia selalu mencari cara untuk mengembangkan dirinya termasuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan. Dalam ajaran Islam sendiripun mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan sebagai wahana dalam membangun peradaban bahkan sampai pasca kehidupan, “mencari ilmu itu adalah wajib bagi muslim laki-laki maupun muslim perempuan”, HR. Ibnu Abdil Barr.

Otak manusia diciptakan Allah swt ibarat harddisk super yang dapat menampung jutaan-milyaran data (ilmu pengetahuan/wawasan) sepanjang hayatnya dan biasanya jika seseorang karena tingkat kemampuan ilmu pengetahuan dan wawasannya dianggap lebih tinggi dari yang lain maka dikategorikan sebagai kaum intelektual dan menjadi magnet bagi yang lain, bahkan dijadikan kiblat dalam melangkah kaum dibawahnya.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”, QS. Al-Mujadallah 11.

Akan tetapi tingginya ilmu pengetahuan dan luasnya wawasan akan menjadi bumerang (fitnah)bagi dirinya sendiri dan mencelakakan orang-orang disekitarnya jika dalam kehidupan ia aplikasikan dengan hanya menggunakan akal pikiran tanpa sedikitpun keterlibatan hati (tempat bernaungnya iman).

Disfungsi hati ini lah yang menjadikan para intelegensi masuk dalam pusaran ilusi janji-janji para penipu dibalik jubah nan suci dan disfungsi hati juga lah yang membuat para korban masih bertahan walau sang “Kanjeng” sudah ditahan :(, wallahua'lam.

Selasa, 21 Juni 2016

APA KABAR KITA?



Sebelum Ramadhan atau kira-kira 2-3 bulan yang lalu televisi dan media sosial santer memberitakan perihal sebutan “ustadzah” pada Oki Setiana Dewi, artis yang akhir-akhir ini sering ikut serta dalam program dakwah di stasiun televisi. Apa ada yang salah dengan sebutan itu hingga sekelompok orang sampai mengeluarkan semacam petisi untuk menggugat penyebutan ustadzah tersebut. Entah darimana asalnya saya pun tak ingin berburuk sangka.

Hanya berkaca dari diri pribadi dan teman-teman yang sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan agama dan kebetulan mengajar di sebuah pondok pesantren. Kami pun dipanggil “ustadzah” karena dalam lingkungan pesantren ustadz/ustadzah dalam bahasa Arab artinya guru atau orang yang mengajar. Terlepas dari apa yang diajarkannya matematika, bahasa Inggris, biologi, Penjas atau apalah tetap saja wajib dipanggil ustadz/ustadzah. 

Jika diperhatikan gaya berhijab dan kemampuan Oki dalam bertausyiah, rasanya sebutan ustadzah jauh lebih pantas disematkan padanya ketimbang pada kami “ustadzah” pesantren yang mengajar pelajaran non agama.
Oki yang berhijab lebar, pandai bertausyiah, memiliki rekam jejak yang baik dalam karirnya saja dihujat karena panggilan ustadzah, lalu APA KABAR KITA? yang berhijab seadanya, bacaan Al-Quran jauh dari sempurna, tak pandai tausyiah, tapi terjebak dalam paradigma kepesantrenannya yang lantas menyeret kita dalam satu panggilan seram “ustadzah”.

Mengapa saya katakan seram karena ternyata begitu besar expektasi orang terhadap objek yang dipanggil ustadzah ini. Ustadzah haruslah lulusan minimal S1 jurusan agama atau jebolan pesantren dan seterusnya. Mungkin berbeda sedikit dengan saya, karena saya mengajar bahasa Inggris, kebanyakan santri ketika saya masih lajang memanggil “Miss”, ketika menikah berganti menjadi “Mam” walau masih saja yang latah memanggil ustadzah, tak apalah. Mudah-mudahan menjadi quide bagi saya untuk meneladani dan menerapkan nilai-nilai Islami selayaknya seorang ustadzah.

Sebenarnya sangat disayangkan munculnya isu ini, karena saya khawatir ini hanyalah ulah sebagian orang yang iri atau tidak senang dengan kesuksesan orang lain atau bisa jadi muslihat kaum kuffar yang berusaha memecah belah umat.

Saya ingin mengutip pernyataan pujangga terkenal William Shakespear “What is in a name?” apalah artinya sebuah nama?. Disebut apapun bunga melati, baunya akan tetap harum.

Kata-kata yang baik memberi hikmah tidak harus keluar dari orang alim saja, orang biasa juga memiliki hak untuk berkata baik sesuai kapasitas keilmuannya masing-masing. Bukankah setiap manusia adalah da’i/da’iyah sekurang-kurangnya untuk dirinya sendiri.

Wallahualam Bissowab

________________
16 Ramadhan /21 Juni (8th Anniversary and Happy Birthday Syifa)
Ada kesalahan di dalam gadget ini